Hello,This is me!

Riz Altaf

Not everyone will understand ur journey It's Okay! You're here to live ur life Not to make everyone understand

Jumat, 01 Juli 2016

Awas! Jomblo rawan dibegal! Pengalaman pribadi

Ilustrasi: news.liputan6.com

Sebenarnya aku malas membahas pengalamanku yang satu ini. Pengalaman horror dimana yang sampai sekarang masih menjadi "Warning" saat aku berkendara. Mungkin itu hikmahnya, sebagai pelajaran dari pengalaman saja sob! Semoga bisa bermanfaat untuk orang lain

***

Aku berada di kota aman dengan toleransi suku dan agamanya yang tinggi. Tidak heran jika saat aku menceritakan pengalamanku ini ke temanku, mereka heran dan bertanya, "di Bali?". Yup! Di Bali. Aku saja heran, tapi bagaimanapun menurutku walaupun di tempat seaman apapun itu yang namanya kejahatan tidak bisa kita hindari. Yang perlu kita persiapkan adalah kesiapan mental dan fisik kita untuk menghadapinya.


Lalu apa maksud dari judul artikelku kali ini yang membawa-bawa kata "Jomblo" di dalamnya? haha.. itu hanya sebuah synonim kata yang kubuat sendiri. Jomblo di sini yang aku maksud adalah "Sendiri". Karena menurutku sendiri identik dengan Jomblo, jadi mari kita buat suasana membaca kali ini lebih santai agar tidak tegang :) Maaf buat para Jomblo! Tanpa menyinggung diri sendiri yang sebenarnya juga masih Jomblo (OK Lupakan)

***

Sekitar jam sembilan malam. Waktu itu aku masih di kantor. Kulihat Hpku berdering, ada tanda telefon masuk dari salah satu temanku yang sekarang berada di Bali. Iya, sebelumnya dia di Surabaya dan kali ini ditugaskan dari tempat kerjanya untuk stay di Bali sementara. Sudah hampir seminggu di Bali, hanya saja aku belum ada waktu untuk bertemu dengannya.


Obrolan dimulai. "Halo? riz? sibuk gak? ayo... kapan kita ngopi?", celetuknya. Aku melihat di sekitarku, pekerjaanku sudah hampir selesai. Di kantor juga lagi sendirian, teman-teman sudah pada pulang semua. Akhirnya aku iyakan saja ajakan temanku ini dan aku bilang bahwa aku akan ke sana 30 Menit lagi. OK, deal! pukul 21.30 aku OTW menuju ke tempatnya temanku yang berada di daerah Nangka Utara.


Gak ada perasaan cemas sebelumnya karena mengingat aku sudah terbiasa dengan daerah tersebut. Kantorku yang lama ada di daerah Nangka Utara dan aku sudah hampir setahun di sana. Memang daerah tersebut lumayan sepi saat malam hari. Tapi lagi-lagi aku mengikuti emosiku tanpa memikirkan keselamatanku. Memang sempat sih berfikir, ke sana sendiri malam hari nanti kalau ada apa-apa gimana? tapi... yasudahlah.... positif thinking aja, pikirku.

***


Jika kita lihat dari Google Map, waktu yang aku butuhkan dari Sesetan menuju Nangka Utara kurang lebih 25 Menit. Tidak begitu jauh, bukan?

Ya, memang tidak terlalu jauh. Singkat cerita, aku sampai di daerah Nangka Utara sekitar jam 10. Sampai di sana, aku berhenti di depan Alfamart. Aku berhenti di pinggir jalan raya yang menurutku waktu itu masih ramai dengan pencahayaan yang cukup terang. Kurang terang bagaimana coba? Di Depan Alfamart.

Aku mengambil smartphoneku yang rencananya mau menelfon temanku karena aku belum tahu, kos dia di nangka utara sebelah mana. Baru saja aku memegang Hp, dari belakang ada dua motor menghampiriku. Disinilah kejadiannya dimulai.

Posisiku masih di pinggir jalan dan diatas motor. Salah satu orang dari motor yang menghampiriku menanyakan sesuatu yang menurutku kurang jelas waktu itu. Blablablabla.... (suara gak jelas) "Maaf mas? apa?", tanyaku. Kulihat sejenak, umur mereka tidak jauh dariku. Masa iya mereka mau tanya jalan, karena wajah mereka wajah lokal. Motor A yang menutup jalan di depan motorku ditunggangi dua orang, pengemudi anaknya kecil dengan wajah sok jagoan sedangkan yang dibonceng lebih gede dengan wajah berandal. Aku tidak begitu ingat dengan satu orang yang di belakangku yang mengendarai Motor B karena waktu itu dia hanya diam seperti srigala berbulu domba

"Masnya orang mana?!", pertanyaan tersebut terdengar jelas saat dia menghampiriku. Resiko jadi Jomblo, banyak yang ngajak kenalan. Hanya saja kali ini tidak sesuai dengan yang aku inginkan. Mana 3 orang ini cowok semua lagi? Emang aku cowok apaan? haha...

Dari cara berbicaranya, dari cara melihatnya, aku langsung "Ngeh" apa tujuan orang-orang ini. Bukan sok pintar, tapi menurutku ini adalah cara jadul yang sering aku baca-baca di Internet. Apalagi saat dia bilang "Masnya tadi nyerempet motorku di sana..." sambil menunjuk arah yang dia maksud. Nyerempet? darimana dan kapan... coba?, pikirku. "Maaf mas, kapan ya? perasaan tadi saya tidak nyerempet siapa-siapa... lancar-lancar aja", tanyaku. "Gak... kamu tadi nyerempet motorku di sana", dia masih tetap dengan kebohongannya. Itu bisa dilihat saat dia mulai grogi sambil melihat orang-orang di sekitar.

Heran aku, yang ditodong aku kok yang grogi dia?.. Gak bisa dipungkiri sih dalam hati aku memang sedikit gemetar waktu itu, karena dari cara mereka mendekatiku aku sudah paham dengan tujuan mereka. Apalagi mereka 3 Orang, mampus dah aku... Hanya saja aku berusaha tetap tenang sambil memikirkan bagaimana caranya aku menghindar dari orang-orang ini.

"Yasudahlah... kalau memang iya aku tadi nyerempet motormu, aku minta maaf... Gak ada yang beset atau luka kan?" kecuali otakmu tuh yang rusak, pikirku. Dia tidak terima dan masih berontak... kali ini dia dekat sekali denganku.

"Lalu, maumu apa?", tanyaku.
"Aku minta kamu balik lagi ke tempat tadi, sujud di depanku", perintahnya. Gila ni orang, pikirku.
"Kenapa tidak di sini saja", tanyaku kembali.
"Gak... sini aku yang di depan, kamu aku bonceng", celetuknya. Wah... wah... makin terlihat bro niat busukmu. Gak segitu juga kali ya kalau ingin mendekatiku (dalam hati).

Banyak orang sekitar yang melihat kejadian waktu itu, hanyasaja mereka mungkin tidak begitu paham dengan apa yang terjadi. Atau mungkin juga ada yang tidak peduli? aku juga gak tahu. Yang ada di pikiranku waktu itu, bagaimana caranya aku berada di tempat yang lebih ramai dan percakapanku terdengar oleh orang banyak sehingga di sini aku bisa menjadi Jomblo namun tidak sendirian. Kesalahanku memang aku sendirian naik motor di malam hari dengan plat nomor bukan plat nomor lokal dan aku juga mungkin terlihat bingung waktu itu. Yaiyalah aku bingung nyari tempat kosnya temanku waktu itu, jadi terlihat sekali seperti orang asing. Santapan ringan dah jadinya.

Aku nyalakan motorku, berharap bisa aku Gas! walaupun endingnya motor di depaku bakalan aku tabrak. But.... ternyata rencanaku gagal. Dengan cepat dia mengambil kunci motorku waktu itu. Hash... Ya Allah, kali ini aku tidak bisa berkutik. Aku bingung dan aku hanya berdoa semoga aku mendapatkan pertolongan.

Sepertinya lumayan lama perbincanganku saat itu, karena saat aku melihat di sekitar. Orang-orang semakin banyak yang melihat ke arahku, seperti ada tanda tanya di atas kepala mereka. "Apa yang terjadi", mungkin begitu pikirnya... Aku tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka tidak paham dengan apa yang terjadi kepadaku waktu itu. Mungkin pikir mereka, ini hanyalah masalah pribadi yang sering terjadi kepada anak-anak remaja pada umumnya. Mereka tidak bakal menyangka kalau ini masalah "Begal".

Aku semakin tersudut waktu itu. Kulihat di sebelah jalan, di depan sana ada banyak orang yang menatapku namun sepertinya terlalu jauh sehingga sulit sekali jika aku ke sana. Kecuali aku tinggalkan motorku. Aku bingung... aku melihat ke depan, di depan ada warung yang menjual lalapan. Di sana juga banyak orang bergerombol dengan tanda tanya diatas kepala mereka namun aku tidak juga begitu yakin bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku saat itu.

Allah maha adil. Setiap ujian yang Allah berikan pasti ada hikmahnya. Semakin Allah sayang kepada seseorang hambanya, semakin kuat pula ujian buatnya.... Dan setiap ujian pasti ada jawaban. Aku tidak memilih untuk mengosongi lembar jawaban tersebut. Aku isi dengan apa yang aku yakini. Jika nanti aku gagal, setidaknya aku sudah mencoba :) Aku bukan type orang yang gampang menyerah begitu saja.

Seperti ada pencerahan, kulihat posisi warung lalapan yang ada di dekat posisiku waktu itu lebih rendah dari jalan raya. Yang artinya, aku bisa menyelamatkan motorku dengan cara mendorongnya ke warung. Sebenarnya aku tidak begitu yakin bisa menerobos motor di depanku hanya dengan kekuatan badanku waktu itu, karena mengingat kunci dipengang oleh sang berandal.

"Winners always try and sometimes fail, but loser never try and never win". 

Dan kali ini (Alhamdulillah) aku menang. Ketika aku mendorong motorku, menabrak si kecil yang menaiki motornya di depanku... aku berhasil membawa motorku di depan warung yang ramai. Di sini mereka mungkin sedikit memahami bahwa aku adalah korbannya. Si berandal masih berani mendekatiku, seakan-akan ingin memukulku. Pukul saja kepalaku, kalau kamu memang ingin merasakan bagaimana rasanya menonjok helm yang keras ini, pikirku. Dia masih berontak, seakan tidak mau kalah. "Kamu tadi nyerempet motorku", begitu ucapnya. Masih dengan kata-kata Gombalnya. "Gak... kapan aku nyerempet?". Aku berani mengelak. Di sini aku sudah merasa tidak sendirian. Dia muai was-was dengan kondisi waktu itu. Banyak mata yang menatapnya dan sepertinya dia tidak kuat mental untuk melanjutkan sandiwaranya. Entah kenapa tiba-tiba dia mundur dengan kunci motorku di tangan kanannya sambil berkata, "Kuncimu aku bawa, kamu pulang jalan kaki". Dengan cepat akhirnya mereka meninggalkan keramaian.

***

Mungkin saja mereka tidak berani menampakkan wajah mereka di CCTV nyata ini. Di mana orang-orang melihatnya dengan tatapan tanda tanya. Atau mungkin mereka kenal salah satunya? aku tidak tahu. Yang jelas mereka sudah meninggalkanku begitu saja. Alhamdulillah ini sudah berakhir, pikirku. Tinggal aku menjelaskan apa yang terjadi saat itu kepada orang-orang di sekitar yang sepertinya mulai tadi sudah penasaran.


Warga di sekitar sangat baik hati. Motorku aku titipkan ke salah satu warga yang ada di sana, aku masih ingat dengan bapak yang baik hati tersebut. Dan aku juga berterimakasih karena bisa bertemu dengannya. Kulihat jam di Hpku menunjukkan pukul 11 lebih dengan banyak notifikasi misscall dari temanku yang mungkin daritadi sudah lama menungguku. Aku telfon balik dia, dan aku jelaskan apa yang terjadi padaku waktu itu hingga akhirnya dia menjemputku.

Keesokan harinya, di siang hari aku ambil motorku. Tidak lupa aku mengucapkan banyak terimakasih kepada bapak yang sudah menyelamatkanku, dan dengan ini selesailah cerita pengalamanku saat aku dibegal.


I try and I win. Semoga pengalaman kali ini bisa bermanfaat untuk sahabat pembaca. Intinya utamakan keselamatan berkendara. Jangan Jomblo sendirian saat berkendara di Malam hari. Jangan pasang wajah bingung di pinggir jalan kalau tidak ingin jadi incaran empuk para Begal. Usahakan berhenti di tempat yang ramai... dengan ramai yang benar-benar ramai dan warna yang terang. Lebih baik lagi berhenti di tempat yang terpasang CCTV. Tetap santai dan jangan mudah Grogi :) Semoga bermanfaat.






Semua artikel di blog ini hanyalah untuk berbagi. Mohon maaf jika ada salah dalam penulisan kata. Kritik dan saran sangat diterima, silakan meninggalkan komentar. Semoga bermanfaat. Terima kasih

9 comments:

  1. Balasan
    1. Iya, aku anggap ini sebagai teguran keras darinya

      Hapus
  2. Serem amat Mas...trus ngga bisa teriak ya Mas minta tolong bahwa Mas lagi jadi korban pembegalan? Kalau ceritanya disitu, banyak orang yang menatap penasaran saat kejadian tersebut. Untungnya ngga kenapa-napa yak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Alhamdulillah selamat. Posisiku tidak dekat dengan orang-orang yang melihat kejadian itu... jd aku kurang yakin kalau mereka dengar makanya aku berusaha untuk mendekat

      Hapus
  3. Duh ngeri gitu ya... thanks for info

    salam
    www.travellingaddict.com

    BalasHapus
  4. ngeri juga ya kalau pergi-pergi sendirian..

    BalasHapus